Rabu, 15 Juni 2011

Dinamika Kepribadian menurut Psikologi Agama



Pendahuluan

Latar Belakang Masalah
Konsep atau teori kepribadian Islam harus segera tampil untuk menjadi acuan normatif bagi umat Islam. Perilaku umat Islam tidak sepatutnya dinilai dengan kacamata teori kepribadian Barat yang sekuler, karena keduanya memiliki frame yang berbeda dalam melihat realita. Perilaku yang sesuai dengan perintah agama seharusnya dinilai baik, dan apa yang dilarang oleh agama seharusnya dinilai buruk. Agama memang menghormati tradisi (perilaku yang ma’ruf), tetapi lebih mengutamakan tuntunan agama yang baik (khayr).
Para psikolog dalam melakukan interpretasi test-test psikologi terhadap klien terkadang memerankan diri sebagai Tuhan (play God), melalui alat yang disebut dengan instrumen atau alat test tertentu, padahal ia hanya tahu kulit luarnya saja. Ironisnya, hal itu menjadi acuan untuk diterima-tidaknya seseorang menjadi pegawai atau jabatan tertentu. Bagi calon pegawai yang mengerti tentang kiat-kiat sukses dalam test kepribadian, ia akan belajar terlebih dahulu bagaimana caranya agar ia mendapat nilai baik, karena alat testnya diulang-ulang (itu-itu saja). Test kepribadian dalam konteks ini tidak akan mampu menunjukkan kepribadian yang sesungguhnya.
Untuk diakui sebagai disiplin ilmu, membangun teori kepribadian berbasis Psikologi Islam akan menghadapi problem metodologis yang rumit. Hal itu terjadi sebab Psikologi Kepribadian Islam berada di dua persimpangan jalan yang harus dilalui. Persimpangan pertama harus melalui prinsip-prinsip ilmiah psikologi modern, sementara persimpangan kedua harus melalui nilai-nilai doktriner dalam Islam. Pada aspek tertentu kedua persimpangan itu mudah dilalui secara simultan, namun pada aspek yang lain justru bertabrakan yang salah satunya tidak mau dikalahkan.
Betapapun sulit dan bahkan akan mengalami proses pendangkalan dan klaim tergesah-gesah, upaya membangun Psikologi Kepribadian Islam tidak dapat ditundah-tunda lagi. Fenomena perilaku yang menimpah umat Islam akhir-akhir ini tidak mungkin dapat dianalisis dengan teori-teori Psikologi Kepribadian Barat. Perilaku radikalisme beragama, bom bunuh diri yang populer dengan sebutan bom syahid, maraknya jamaah zikir dan muhasabah, senyumnya Amrozi saat divonis mati adalah sederetan perilaku yang unik dan membutuhkan analisis khusus dari teori-teori Psikologi Kepribadian Islam. Boleh jadi dalam teori Psikologi Kepribadian Barat perilaku tersebut merupakan patologis, sementara dalam Psikologi Kepribadian Islam diyakini sebagai perilaku yang mencerminkan aktualisasi diri atau realisasi diri.
Menghadirkan disiplin kepribadian Islam tidaklah mudah, sebab hal itu mengundang banyak pertanyaan. Klaim ketidakilmiahan dan kerancuan metodologis menjadi senjata penyerangan bagi mereka yang antipati terhadap kehadiran disiplin yang berbasis agama. Bukankah psikologi kepribadian selama ini hanyalah hasil adopsi dari teori-teori Barat? Apakah hal itu tidak menjadikan bias budaya? Mungkinkah teori yang dihasilkan dari penelitian atau eksperimen budaya Barat, bahkan ’budaya’ binatang (karena eksperimennya menggunakan binatang), dijadikan pisau analisis dalam melihat perilaku umat Islam?
Uichol Kim, seorang psikolog asal Korea, mengkritisi psikologi Barat yang menyamaratakan pandangan psikologinya sebagai human universal dengan menawarkan konsep psikologi pribumi (the indigenous psychology). Menurut Kim, yang dikutip Achmad Mubarok, manusia tidak cukup dipahami dengan teori psikologi Barat, karena psikologi Barat hanya tepat untuk mengkaji manusia Barat sesuai dengan kultur sekulernya yang melatarbelakangi lahirnya ilmu itu. Untuk memahami manusia di belahan bumi lain harus digunakan pula basis kultur dimana manusia itu hidup.
Psikologi Kepribadian Islam yang dimaksudkan di sini tidak saja bernilai the indigenous psychology, tetapi juga dianggap sebagai psikologi kepribadian lintas budaya, etnik dan bahasa. Atau lebih tepatnya dianggap sebagai psikologi kepribadian rahmat li al-’alamin, yang mencakup alam syahadah (empirik) dan alam ghayb (metaempirik), bahkan alam dunia dan alam akhirat. Kerangka inilah yang menjadi acuan dalam penulisan buku ini.
Ketika psikologi Islam menghadirkan konsep kepribadian, masalah pertama yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah terminologi apakah menggunakan istilah kepribadian Islam (al-syakhshiyyah al-Islamiyyah) atau kepribadian muslim (syakhshiyyat al-muslim):
Pertama, Kepribadian Islam memiliki arti serangkaian perilaku manusia, baik sebagai mahluk individu maupun mahluk sosial, yang normanya diturunkan dari ajaran Islam, yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari kedua sumber tersebut, para pakar berusaha berijtihad untuk mengungkap bentuk-bentuk kepribadian menurut ajaran Islam, agar bentuk-bentuk itu diterapkan oleh pemeluknya. Rumusan kepribadian Islam di sini bersifat deduktif-normatif yang menjadi acuan bagi umat Islam untuk berperilaku. Oleh karena sifatnya yang deduktif-normatif maka kepribadian Islam di sini diyakini sebagai konsep atau teori kepribadian yang ideal, yang ’seharusnya’ dilakukan oleh pemeluk agama Islam.
Kedua, Kepribadian muslim memiliki arti serangkaian perilaku orang/umat Islam yang rumusannya digali dari penelitian perilaku kesehariannya. Rumusan kepribadian muslim di sini bersifat induktif-praktis, karena sumbernya dari hasil penelitian terhadap perilaku keseharian orang/umat Islam. Boleh jadi dalam penelitian itu ditemukan (1) pola kepribadian yang ideal, karena kepribadian itu sebagai implementasi dari ajaran agama; (2) pola yang menyimpang (anomali), karena perilaku yang ditampilkan bertentangan dengan ajaran agamanya, sekalipun dirinya berpredikat muslim. Dalam konteks ini, keburukan atau kejahatan perilaku orang/umat Islam tidak dapat digeneralisir bahwa ajaran Islam itu buruk dan jahat. Artinya, kepribadian muslim belum tentu mencerminkan kepribadian Islam.



Rumusan Masalah

  1. Konsep seperti apakah Dinamika Kepribadian dalam Islam?
  2. Menyelaraskah teori kepribadian Barat dengan Islam?





PERKEMBANGAN JIWA BERAGAMA PADA MASA DEWASA


A. Pendahuluan
Sikap keberagamaan pada orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keberagamaan ini umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengartian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama, bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan
B. Pengertian Dewasa dan Ciri-ciri Kedewasaan
Saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kematangan jiwa mereka; “Saya hidup dan saya tahu untuk apa,” menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup.Dengan kata lain, orang dewasa nilai-nilai yang yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya.
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian
1. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)
Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, priode isolasi social, priode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.
2. Masa dewasa madya (middle adulthood)
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan social antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
3. Masa usia lanjut (masa tua/older adult)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun. Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam system syaraf, perubahan penampilan.
C. Karakteristik Sikap Keberagamaan Pada Masa Dewasa
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki cirri sebagai berikut:[3]
  1. Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
  2. Cenderung bersifat realitas, sehinggga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
  3. Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
  4. Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
  5. Bersikap lebih terbuaka dan wawasan yang lebih luas.
  6. Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
  7. Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
  8. Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan social, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
D. Kriteria Orang yang Matang dalam Beragama
Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragama. Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bukunya The Varieties Of Religious Experience William James menilai secara garis besar sikap dan prilaku keagamaan itu dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu:[4]
1. Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The Sick Soul)
Menurut William James,sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Maksudnya orang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang secara bertahap sejak usia kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa seperti lazimnya yang terjadi pada perkembangan secara normal. Mereka meyakini suatu agama dikarenakan oleh adanya penderitaan batin antara lain mungkin diakibatkan oleh musibah, konflik batin ataupun sebab lainnya yang sulit diungkapkan secara ilmiah.
Adapun ciri-ciri tindak keagamaan mereka yang mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cenderung menampilkan sikap:[5]
- Pesimis
Dalam mengamalkan ajaran agama mereka cenderung bersikap pasrah diri kepada nasib yang telah mereka terima.
- Intovert
Sifat pesimis membawa mereka untuk bersikap objektif. Segala marabahaya dan penderitaan selalu dihubungkannya dengan kesalahan diri dan dosa yang telah diperbuat.
- Menyenagi paham yang ortodoks.
Sebagai pengaruh sifat pesimis dan introvert kehidupan jiwanya menjadi pasif. Hal ini lebih mendorong mereka untuk menyenangi paham keagamaan yang lebih konservatif dan ortodoks.
2. Tipe Orang yang Sehat Jiwa (Healthy-Minded-Ness)
Ciri dan sifat agama pada orang yang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalm bukunya Religion Psychology adalah:[6]
- Optimis dan gembira
Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis. Pahala menurut pandangannya adalah sebagai hasil jerih payah yang diberikan Tuhan. Sebaliknya, segala bentuk musibah dan penderitaan yang dianggap sebagai keteledoran dan kesalahan yang dibuatnya dan tidak beranggapan sebagai peringatan Tuhan terhadap dosa manusia.
- Ektrovet dan tak mendalam
Sikap optimis dan terbuka yang dimiliki orang yang sehat jasmani ini menyebabkan mereka mudah melupakankesan-kesan buruk dan luka hati yang tergores sebagai ekses agamis tindakannya.
- Menyenagi ajaran ketauhidan yang liberal
Sebagai pengaruh kepribadaian yang ekstrovet maka mereka cenderung;
1) Menyenangi teologi yang luwes dan tidak kakuk
2) Menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas
3) Mempelopori pembelaan terhadap kepentingan agama secara sosial.
E. Masalah-masalah Keberagamaan Pada Masa Dewasa
Seorang ahli psikologi Lewis Sherril, membagi masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa sebagai berikut;
  1. Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambildengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
  2. Masa dewasa tengah, masalah sentaral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
  3. Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.

PERKEMBANGAN REMAJA


Istilah asing yang sering dipakai untuk menunjukkan makna remaja, antara lain adalah puberteit, adolescentia dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering pula dikatakan pubertas atau remaja. Istilah puberty (Inggris) atau puberteit (Belanda) berasal dari bahasa latin pubertas yang berarti usai kedewasaan, istilah ini berkaitan dengan kata latin lainnya pubescere yang berarti masa pertumbuhan rambut di daerah tulang “Pusic”(di wilayah kemaluan). Penggunaan istilah ini lebih terbatas pada kematangan seksual.
a. Remaja Menurut Hukum.
Dalam hubungan dengan hukum tampaknya hanya Undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep remaja waluapun tidak secara terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut Undang-undang di sebutkan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (pasal 7 UU No.1/1974 tentang perkawinan).
b. Remaja Ditinjau Dari Sudut Perkembangan Fisik.
Dalam kedokteran dan ilmu-ilmu yang lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya.
c. Remaja Ditinjau Dari Faktor Sosial Psikologis.
Yaitu dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap.
d. Definisi Remaja Untuk Masyarakat Indonesia.
Menurut Sarlito, tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah Indonesia terdiri dari barbagai suku, adat, dan tingkatan sosial ekonomi, maupun pendidikan sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah.

 PERTUMBUHAN MENTAL REMAJA.
Ide-ide agama, dasar –dasar keyakinan dan pokok-pokok ajaran agama, pada dasarnya dapat diterima seseorang pada masa kecilnya. Ide pokok ajaran agama yang diterimanya pada waktu kecilnya itu akan berkembang dan bertambah subur, apabila anak atau remaja dalam menganut kepercayaan itu tidak mendapat kritikan-kritikan dalam hal agama dan apa yang bertumbuh dari kecil itulah yang menjadi keyakinan yang di peganginya melalui penglaman-pengalaman yang di percaya.
Alfred Binet, seorang psikolog prancis (1857-1911) yang terkenal dengan tes Binet/Simon. Yang pertama kali di perkenalkannya Intelligent Quotient (IQ). Berpendapat bahwa kemampuan untuk mengerti masalah-masalah yang abstrak, tidak sempurna perkembangannya sebelum mencapai usia 12 tahun. Dan kemampuan untuk mengambil kesimpulan yang abstrak dari fakta-fakta yang ada baru tampak pada umur 14 tahun. Itulah sebabnya anak-anak telah dapat menolak saran-saran yang tidak dapat di mengertinya dan mereka sudah dapat mengkritik pendapat-pendapat tertentu yang berlawanan dengan kesimpulan yang di ambilnya.
Perkembangan mental remaja kearah berfikir logis (falsafi), juga mempengaruhi pandangan dan kepercayaannya kepada Tuhan. Karena mereka tidak dapat melupakan Tuhan dari segala peristiwa yang terjadi di alam ini.
Kepercayaan remaja akan hari akhirat, hari pembalasan dimana setiap orang akan menerima ganjaran atau siksaan sesuai dengan perbuatannya di dunia, akan menyebabkan ragu pula akan keadilan Tuhan, apabila ia melihat adanya (banyak) orang yang terpaksa dalam perbuatannya. Contoh: Ucapan seorang gadis berumur 18 tahun sebagai berikut:
“Kalaupun saya dihukum oleh Tuhan karena durhaka kepada orangtua, apa boleh buat; tetapi saya akan protes kepadanya, karena saya durhaka, bukan atas keinginan saya, tapi karena perlakuan merekalah yang menyebabkan saya durhaka, mereka kasar dan sering menyakiti hati saya.”
Agama remaja adalah hasil interaksi antara dia dan lingkungannya. Sedang gambarannya tentang Tuhan dan sifat-sifatnya, di pengaruhi oleh kondisi perasaan dan sifat remaja itu sendiri.


PERKEMBANGAN MORAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN AGAMA.
Kita tidak dapat mengatakan seorang anak yang baru lahir bermoral atau tidak bermoral. Karena moral itu tumbuh dan berkembang dari pengalaman-pengalaman yang di alami oleh anak-anak sejak ia lahir, pertumbuhannya baru dapat mencapai kematangan pada usia remaja, ketika kecerdasannya telah selesai bertumbuh.
Pembinaan moral, terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan kebiasaan, yang di tanamkan sejak kecil oleh orangtua. Yang dimulai dengan pembiasaan hidup sesuai dengan nilai moral, yang ditirunya dari orangtua dan mendapat latihan-latihan untuk itu.
Dalam pembiasaan moral, agama mempunyai peranan yang penting, karena nilai-nilai moral yang datang dari agama tetap tidak berubah oleh waktu dan tempat.
Karena itu agama mempunyai peranan penting dalam pengendalian moral seseorang. Tetapi harus di ingat bahwa pengertian tentang agama, tidak otomatis sama dengan bermoral. Betapa banyak orang yang mengerti tentang agama, akan tetapi moralnya merosot. Dan tidak sedikit pula orang yang tidak mengerti agama sama sekali tetapi moralnya cukup baik.
Untuk lebih jelasnya, dapat kita lihat sangkut paut keyakinan beragama dengan moral remaja terutama dalam masalah-msalah sebagai berikut:

. Tuhan Sebagai Penolong Moral
Dengan itu dapat di tegaskan bahwa Tuhan bagi remaja adalah keharusan moral, pada masa remaja itu, Tuhan lebih menonjol sebagai penolong moral dari pada sandaran emosi. Kepercayaan kepada Allah pada periode pertama dari masa remaja, bukanlah keyakinan fikiran, akan tetapi adalah kebutuhan jiwa.

  Pengertian Surga dan Neraka
Pada masa remaja surga dan neraka tidak lagi di ibaratkan sesuatu yang akan dirasakan dikemudian hari, namun remaja mengibaratkan surga dan neraka adalah sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya dan menghubungkannya dengan hal-hal yang kongkrit.

  Pengertian Tentang Malaikat dan Setan.
Memuncaknya rasa dosa pada masa remaja dan bertambah meningkatnya kesadaran moral dan petumbuhan kecerdasan, semuanya bekerjasama, sehingga hilanglah keyakinannya tentang malaikat dan setan seperti pemahaman masa kecilnya, namun mereka sadar bahwa betapa erat hubungan setan dan malaikat itu dengan dirinya. Mereka menyadari adanya hubungan yang erat antara setan dengan dorongan jahat yang ada dalam dirinya dan hubungan antara malaikat dengan moral serta keindahan yang ideal, demikian antara surga dan ketentraman batin dan kekuasaan yang baik, juga antara neraka dengan ketentraman batin dan hukuman-hukuman atas dosa, intinya adalah remaja sudah mulai melepaskan diri dari alam khayal ke alam kenyataan.

KEDUDUKAN REMAJA DALAM MASYARAKAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEYAKINANNYA.
Para remaja sangat memperhatikan penerimaan sosial dari teman sebayanya. Mereka sangat sedih, apabila dalam pergaulan ia tidak mendapat tempat atau kurang di perdulikan oleh teman-temannya, remaja cenderung meniru apa yang di buat, dipakai, atau dilakukan oleh teman-temannya, jika terjadi perbedaan pendapat antara orangtua dengan teman-temannya maka biasanya remaja memihak kepada pendapat teman-temannya, dan hal ini juga terjadi dalam aktifitas keagamaan.
Disamping pandangan teman-temannya, remaja juga memperhatikan statusnya dalam masyarakat pada umumnya. Namun remaja sering kali menarik diri dari masyarakat, acuh tak acuh terhadap aktifitas agama, bahkan kadang-kadang tindakan mereka menentang adat kebiasaan dan nilai-nilai. Hal ini biasanya disebabkan oleh remaja tidak mendapat kedudukan yang jelas dalam masyarakat. Dan remaja di lain pihak ingin bebas, terlepas dari kekuasaan dan kritikan-kritikan orang dewasa, mereka cenderung mencari orang lain yang dapat mereka jadikan teladan atau pahlawan (hero).
Remaja sebenarnya cenderung untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan agama, asal lembaga-lembaga itu dapat mengikut sertakan remaja dan memberi kedudukan yang pasti kepada mereka. Kebijaksanaan pemimpin agama, yang dapat menyadari bahwa remaja mempunyai dorongan dan kebutuhan sosial yang perlu dipenuhi akan dapat menggerakkan remaja untuk ikut aktif dalam kegiatan keagamaan.


SIKAP REMAJA TERHADAP AGAMA

 Percaya Dengan Turut-Turutan.
Sesungguhnya kebanyakan remaja percaya terhadap Tuhan dan menjalankan agama, karena mereka terdidik dalam lingkungan yang beragama, karena bapak ibunya orang beragama, teman dan masyarakat sekelilingnya rajin beribadah maka mereka ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran-ajaran agama sekedar mengikuti suasana lingkungan dimana ia hidup. Mereka seolah-olah Apatis, tidak ada perhatian untuk meningkatkan agama, dan tidak mau aktif dalam kegiatan agama.
Hal ini terjadi apabila orang tuanya memberikan didikan agama dengan cara yang menyenangkan, jauh dari pengalaman pahit di waktu kecil, dan setelah remaja tidak mengalami pula hal-hal yang menggoncangkan jiwanya, sehingga cara kekanak-kanakan itu terus berjalan, dan ditinjau kembali.
Percaya turut-turutan ini biasanya tidak lama dan banyak terjadi hanya pada masa-masa remaja pertama (umur 13-16 tahun) sesudah itu berkembang kepada cara yang lebih kritis dan lebih sadar.


 Percaya Dengan Kesadaran.
Masa remaja adalah masa dimana perubahan dan kegoncangan terjadi di segala bidang, yang dimulai dengan perubahan jasmani yang sangat cepat, jauh dari keseimbangan dan keserasian. Setelah remaja menemukan jati dirinya ia mungkin merasa asing dalam masyarakat, sehingga sikapnya jadi berubah, ingin menjauh dari masyarakat atau tenggelam dari aktifitas-aktifitas masyarakat.
Setelah kegoncangan remaja pertama ini agak reda yaitu kira-kira 16 tahun, dimana pertumbuhan jasmani hampir selesai, kecerdasan juga sudah dapat berfikir lebih matang dan pengetahuan telah bertambah pula. Semua itu mendorong remaja kepada lebih tenggelam lagi dalam memikirkan dirinya sendiri, ingin mengambil tempat yang menonjol dalam masyarakat. Kebangunan jiwa itu mungkin dalam bentuk abnormal atau menyeleweng.

 Kebimbangan Beragama
Para remaja merasa ragu untuk menentukan antara unsur agama dengan mistik sejalan dengan perkembangan masyarakat kadang-kadang secara tidak di sadari tindak keagamaan yang mereka lakukan di topangi oleh praktek kebatinan yang mistik. Penyatuan unsur ini merupakan suatu dilemma yang kabur bagi para remaja.
Secara individu sering pula terjadi keraguan yang disebabkan beberapa hal antara lain:
a. Kepercayaan, menyangkut masalah ketuhanan dan implikasinya, terutama (kristen) status ketuhanan sebagai trinitas.
b. Tempat suci, menyangkut masalah pemuliaan dan pengagungan tempat-tempat suci keagamaan
c. Alat perlengkapan keagamaan, seprti fungsi Salib dan Rosario dalam Kristen.
d. Perbedaan aliran dalam keagamaan, sekte (Kristen) atau madzhab (Islam).
Keraguan yang demikian akan menjurus kearah munculnya konflik dalam diri para remaja sehingga mereka dihadapkan kepada pemilihan antar mana yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan salah.
Konflik ada beberapa macam di antaranya:
a. Konflik antara percaya dan ragu
b. Konflik yang terjadi antara pemilihan satu di antara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan.
c. Konflik yang terjadi oleh pemilihan antar ketaatan beragama atau sekulerisme.
d. Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang di dasarkan atas petunjuk-petunjuk Illahi.

 Tidak Percaya Terhadap Tuhan
Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari ujud Tuhan sama sekali dan menggantinya dengan keyakinan lain. Atau mungkin pula hanya tidak mempercayai adanya Tuhan saja secara mutlak. Dalam keadaan pertama mungkin seseorang merasa gelisah, tetapi dalam keadaan kedua terselip di belakangnya kegoncangan jiwa, dan hal ini terjadi dibawah umur 20 tahun.
Perkembangan remaja kearah tidak mempercayai adanya Tuhan itu, sebenarya mempunyai akar atau sumber dari kecilnya, Misal: anak yang merasa tertekan oleh kekuasaan atau kedzaliman orangtua.
Dalam kenyataan terlihat, bahwa kebimbangan beragama lebih banyak terjadi pada orang-orang yang telah maju, karena mempelajari filsafat (DR.Al-Mali 69)
Suatu hal yang dapat mendorong orang sampai mengingkari ujud Tuhan, ialah dorongan-dorongan seksual yang dirasakannya. Sesungguhnya dorongan-dorongan yang tidak terpenuhi itu akan menyebabkan remaja kecewa, apabila kekecewaan itu berulang-ulang, akan bertambahlah kepadanya rasa pesimis dan putus asa dalam hidup.
Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa, kerusakan akhlaq akan membawa kepada rasa anti agama. Hal ini memang di jaga sekali oleh ulama’-ulama’, sehingga banyaklah aturan dan hukum untuk mengekang, jangan sampai dorongan seks itu dipenuhi semau-maunya.

Kematangan Beragama

A. Pengertian Matang Beragama
Manusia mengalami dua macam perkembangan yaitu perkembangan jasmani dan rohani. Perkembangan jasmani diukur berdasarkan umur kronologis. Puncak perkembangan jasmani yang dicapai manusia disebut kedewasaan, sebaliknya perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan (Abilitas). Pencapaian tingkat abilitas tertentu bagi perkembangan rohani disebut istilah kematangan (Maturity).
Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematanan beragama, jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menganut suatu agama karena menurut keyakinannya agama tersebutlah yang terbaik. Karena itu ia berusaha menjadi penganut yang baik, keyakinan itu ditampilkannya dalam sikap dan tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya.
B. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian Manusia.
Seperti halnya yang telah dijelaskan diatas dalam tingkat perkembangan yang dicapai diusia anak-anak, maka kedewasaan jasmani belum tentu berkembang setara dengan perkembangan rohani. Secara normal memang seorang yang sudah mencapai tingkat kedewasaan akan memiliki pola kematangan rohani seperti kematangan berpikir, kematangan pribadi maupun kematangan emosi. Tetapi perimbangan antara kedewasaan jasmani dan kematangan rohani ini ada kalanya tidak berjalan sejajar. Secara fisik (jasmani) seseorang mungkin sudah dewasa, tetapi secara rohani ia ternyata belum matang.
Keterlambatan pencapaian kematangan rohani ini menurut ahli psikokogi pendidikan sebagai keterlambatan dalam perkembangan kepribadian. Factor-faktor ini menurut Dr.Singgih D. Gunarsa dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: factor yang terdapat pada diri anak dan factor yang berasal dari lingkungan.
Adapun factor intern anak itu yang dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah: konstitusi tubuh, struktur dan keadaan fisik, koordinasi motorik, kemampuan mental dan bakat khusus (intelegensi tinggi, hambatan mental, bakat khusus), emosionalitas. Semua factor intern ini ikut mempengaruhi terlambat tidaknya perkembangan kepribadian seseorang.
Selanjutnya yang termasuk pengaruh factor lingkungan adalah: keluargaa, sekolah (Singgih D.Gunarta: 88-96). Selain itu ada factor lain yang juga mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang yaitu kebudayaan tempat dimana seseorang itu dibesarkan. Kebudayaan turut mempengaruhi pembentukan pola tingkah laku serta berperan dalam pembentukan kepribadian. Kebudayaan yang menekankan pada norma yang didasarkan kepada nilai-nilai luhur seperti kejujuran, loyalitas, kerja sama bagaimanapun akan memberi pengaruh dalam pembentukan pola dan sikap yang merupakan unsur dalam kepribadian seseorang. Demikian pula halnya dengan kematangan beragama.
Dalam kehidupan tak jarang dijumpai mereka yang taat beragama itu dilatar belakangi oleh berbagai pengalaman agama serta type kepribadian masing-masing. Kondisi seperti ini menurut temuan psikologi agama mempengaruhi sikap keagamaan seseorang. Dengan demikian pengaruh tersebut secara umum memberi ciri-ciri tersendiri dalam sikap keberagamaan masing-masing.
Jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati, serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menganut suatu agama karena menurut keyakinannya agama tersebutlah yang terbaik, karena itu ia berusaha menjadi penganut yang baik. Keyakinan itu ditampilkan dalam sikap dan tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya. Secara normal memang seorang yang sudah mencapai tingkat kedewasaan akan memiliki pola kematangan rohani seperti kematangan berfikir, kematangan kepribadian maupun kematangan emosi, tetapi perimbangan antara kedewasaan jasmani dan kematangan rohani ini ada kalanya tidak berjalan sejajar, secara fisik (jasmani) seseorang mungkin sudah dewasa, tetapi secara rohani ternyata ia belum matang.

Kepribadian Menurut Barat

Kenyataan psikologi yang selalu dipegang lewin ialah bahwa pribadi itu selalu ada dalam lingkungannya. Pribadi tidak dapat dipikirkan lepas dari lingkungnnya.
     a)  Pribadi
Selaras dengan prinsip psikologi, Gestalt cara gambarkan pribadi itu secara structural ialah dengan cara melukiskan pribadi itu sebagai keseluruhan yang terpisah dari hal-hal lain yang di dunia ini.
                            b) Lingkungan Psikologi
Lingkungan psikologi adalah lingkungan sebagai mana adanya bagi seseorang. Lingkungan psikologis adalah bagian dari ruangan hidup, karenanya sifat-sifatnya tidak hanya ditentukan oleh sifat-sifat lingkungan obyektif, tetapi juga oleh sifat-sifat pribadi.


c)   Ruang Hidup
Ruang Hidup (atau yang disebut juga “medan psikologis” atau “keseluruhan situasi”), adalah totalitas realitas psikologis yang berisikan semua fakta yang dapat mempengaruhi tingkah laku individual pada sesuatu saat. Dengan kata lain, tingkah laku adalah fungsi 
      c)   Diferensiasi Ruang Hidup
      penggambaran ruang hidup (pribadi dalam lungkungan psikologinya) seperti yang telh di
berikan di muka itu tidak cukup menggambarkan kenyataan yang sebenarnya, sebab dalm kenyataannya baik pribadi maupun lingkungan psikologinya itu tidak pernah merupakan unitas yang mutlak, tetapi mempunyai diferensiasi. Struktur ruang hidup tidak homogen, tetapi heterogen, terdiri atas bagian-bagian yang satu sama lainnya saling berhubngan dan saling bergantungan.
d)   Dimensi-Dimensi Ruang Hidup
      ·        Dimensi waktu
Kurt Lewin berpegng pada prinsip kekinian. Walaupun menurut prinsip kekinian masa lampau dan atau masa depan tidak mempengaruhi tingkah laku kini, tetapi sikap, perasaan, pikiran, dan sebagainya mengenai masa lmpau dan/ atau masa depan (yang ada atau terjadi kini) mempengaruhi tingkah laku kini. Karena itu, masa kini harus juga memuat sangkut- pautnya dengan masa lampau dan masa depn (dalam arti psikologis).
      ·        Dimensi Realitas Irrealitas
Dimensi daam ruang lingkup ini membawa diferensiasi pula dalam dimensi dimensi realitas-realitas. Irrealitas berisikan fkta khayal. Di antara kedua bentuk ekstrim itu terdapat berbagai taraf  seperti perbuatan itu lebih mempunyai realitas dari pada berbicara tentang perbuatan itu, tujuan yang ideal kurang sifat realitasnya dari pada tujuan yang langsung, dan lain sebagainya.
  
2.      D                                      DINAMIKA KEPRIBADIAN
Di dalam membahas dinmika kepribadian, Lewin mengemukakan konsepsi yang istilah-istilahnya diambil dari ilmu pengetahuan alam. Pengertian-pengertian pokok yang di pergunakan oleh Lewin di sini ialah: energy, tension, need, valence, dan vorce atau vector.

         a)      Energy (energi)
Lewin berpendapat bahwa tiap gerak atau kerja itu pasti mempergunakan energi. Pribadi dipandangnya sebagai system energi. Energi yang menyebabkan kerja psikologis disebutnya energi psiknis.
     b)      Tension (tegangan)
Tension atau tegangan adalah keadaan pribadi, keadaan relative daerah dalam pribadi yang satu terhadap daerah yang lain (dalam hal ini Lewin menyebut daerah itu sebagai sistem). Ada dua sifat dari tension itu:
       1)      Keadaan tegang pada sesuatu system cenderung untuk menyamakan diri dengan system di sekitarnya. System yang mempunyai tegangan tinggi (karena adanya pengumpulan energi) mengalirkan energi ke system sekitarnya yang tegangannya lebih rendah, sehingga tegangannya sama dengan system lain-lainnya.
         2)      Bagaimana tension itu mereta tergantung kepada kuat dan lemahnya batas antara system-sistem itu (dalam hal ini Lewin mempergunakan istilah rigidity dan fluidity).
            c)      Need (kebutuhan)
Kebutuhan adalah keadaan atau sifat pribadi yang menyebabkan meningkatnya tension. Hal tersebut dapat berupa:
          1)      Keadaan fisiologis, seperti haus, lapar, dan sebagainya
         2)      Keinginan akan sesuatu, seperti baju, mobil dan sebagainya
           3)      Keinginan mengerjakan sesuatu, seperti bermain bola, menonton, dan sebagainya.
Dengan demikian nyata bahwa kabutuhan itu merupakan motif, keinginan dan dorongan.
          d)      Valence (valensi)
Valensi adalah pengertian yang dipakai oleh Lewin untuk menggambarkan sifat dari pada lingkungan psikologis, yaitu nilai  ingkungan psikologis itu bagi pribadi. Ada dua macam nilai itu, yaitu positif dan negative:
          1)      Sesuatu mempunyai valensi atau niai positif apabila menyebabkan kekuragannya atau hilangnya tegangan jika pribadi mendapatkan atau memasuki daerah itu, serta menyebabkan meningkatnya tegangan kalau pribadi tercegah untuk mendapatkannya. Misalnya makanan bagi orang yang lapar.
        2)      Sesuatu mempunyai valensi atau negative apabila menyebabkan meningkatnya tegangan jika pribadi menghampirinya, serta menyebabkan menurunnya tegangan apabila pribadi meninggalkannya. Misalnya anjing bagi orang yang takut anjing.
     e)      Force atau vector
Valensi bikanlah hal yang mendorong pribadi untuk bergerak dalam lingkungan psikologisnya, tetapi hanya memberi arah gerakan itu. Yang mendorong adalah force atau vector. Sesuatu gerakan (locomotion) terjadi apabila ada kekuatan yang cukup besar mendorong pribadi. Kekuatan itu berkoordinasi dengan kebutuhan, tetapi bukannya tegangan. Kekuatan itu mempunyai tiga sifat:
      1)      Arahnya
          2)      Besarnya
           3)      Titik tangkap nya
Ketiga sifat itu digambarkan dengan vector:
1)      Arah kekuatan digambarkan denagn arah vector
2)      Besar kecilnya kekuatan digambarkan dengan panjang pendeknya vector
3)      Titik tangkap kekuatan digambarkan dengan tempat anak panah vector.
f)        Locomotion (gerakan)
Misalnya seorang anak melewati sebuah took, dan melihat di etalage took itu sebuah boneka yang sangat bagus dan dia menginginkannya. Jadi melihat boneka menimbulkan kebutuhan akan boneka.
g)      Perubahan atau Perubahan Struktur (umstruckturierung, restucturing)
Dinamika kepribadian itu juga nampak pada pengubahan atau perubahan struktur lingkungan psikologis. Pengubahan itu dapat berlangsung dalam berbgai cara:
1)      Nilai daerah-daerah berubah, hal ini dapat:
·        Secara kuantitatif dari positif sedikit ke positif banyak, atau dari negative banyak ke negative sedikit.
·        Secara kualitatif, dari negative menjadi positif dan sebaliknya.
2)      Vector berubah:
·        Berubah dalam arahnya
·        Berubah dalam kekuatannya
·        Berubah dalam arah dan kekuatannya
Menurut Lewin inti belajar dan pemecahan sesuatu masalah itu terletak di dalam perubahan struktur itu.
h)      Tujuan Proses Psikologis
Lewin berpegang pada prinsip “psychological homeostatis” dan menganggap tujuan semua proses psikologis itu adalah kembali ke keseimbangan jiwa yaitu keadaan tanpa tegangan.


Pembentukan Identitas Diri
Proses integrasi pengalaman-pengalaman ke dalam kepribadian yang makin lama makin menjadi dewasa, disebut proses pembentukan jati diri.

Sebelum sampai pada pembentukan kepribadian yang matang, dewasa dan permanent, proses pembentukan identitas diri harus melalui beberapa tingkatan. Salah satu tingkatan yang harus dilalui adalah identifikasi, yaitu dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, misalnya dengan ayah, ibu, kakak, saudara, guru dan sebagainya. Pada masa remaja, tahap identifikasi ini data menyebabkan kebingungan dan kekaburan akan peranan social, karena remaj-remaja cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan beberapa tokoh sekaligus. Misanya dengan ayahnya, bintang film kesayangannya, tokoh politik favoritnya dan sebaginya.
Kalau kekaburan akan peranan social ini tidak dapat dihapuskan sampai remaja ini menjdi dewasa, maka besar kemungkinan ia akan menderita gangguan-gangguan kejiwaan pada masa dewasanya. Karena itu penting sekali diusahakan agar remaja dapat menentukan sendiri identitas dirinya dan berangsur-angsur melepaskan idntifiksinya terhadap orang-orang lain hingga akhirnya menjadi diri sendiri.

5.      JENI                              KEPRIBADIAN
Hakekat perkembangan itu menurut Lewin adalah perubahan-perubahan tingkah laku (behavioral changes),
1.      Perkebangan berarti perubahan di dalam variasi tingkah laku. Makin bertambah umur seseorang (sampai pada batas-batas umur tertentu yang tak dapat ditetapkan dengan pasti karena sifatnya individual) variasi kegiatannya, perasaannya, kebutuhannya, hubungan sosialnya, dan sebagainya, terus bertambah.
2.      Perkembngan berarti parubahan dalam organisasi dan struktur tingkah laku. Makin bertambah umur anak tidak hanya variasi tingkah lakunya yang bertambah, tetapi juga organisasi serta struktur tingkah laku berubah, menjadi lebih kompleks.
3.      Perkembangan berrti bertambah luasnya arena aktifitas. Makin bertambah dewasa anak, maka arena aktifitasnya bertambah luas. Kecuali arena (daerah) di dalam arti biasa, juga terjadi perluasan dalam dimensi wktu.
4.      Perkembangan berarti perubahan dlam taraf realitas. Makin bertambah umur anak, maka dimensi realitas-irrealitas juga berubah. Biasanya makin bertambah tua orang orientasinya  makin realistis, makin dapat membedakan yang khayal dan yang nyata (pada anak kecil ada dusta khayal), makin dapat mengerti hal yang abstrak.
5.      Perkembangan berarti makin terdiferensiasinya tingkah laku. Tingkah laku anak kecil bersifat difus. Setelah anak lebih besar, maka tingkah lakunya makin tersiferensiasikan. Dalam pada itu terjadi pula integrasi, koordinasi antara bagian-bagian menjadi lebih baik.
6.      Perkembangan berarti diferensiasi dan stratifikasi. Makin bertambah umur orang, makin bertambah daerah-daerah di dalam pribadinya dan di  dalam lingkungan psikologisnya (proses ini disebut proses diferensiasi).    

Kesimpulan
istilah kepribadian Islam (al-syakhshiyyah al-Islamiyyah) atau kepribadian muslim (syakhshiyyat al-muslim):
Pertama, Kepribadian Islam memiliki arti serangkaian perilaku manusia, baik sebagai mahluk individu maupun mahluk sosial, yang normanya diturunkan dari ajaran Islam, yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari kedua sumber tersebut, para pakar berusaha berijtihad untuk mengungkap bentuk-bentuk kepribadian menurut ajaran Islam, agar bentuk-bentuk itu diterapkan oleh pemeluknya. Rumusan kepribadian Islam di sini bersifat deduktif-normatif yang menjadi acuan bagi umat Islam untuk berperilaku. Oleh karena sifatnya yang deduktif-normatif maka kepribadian Islam di sini diyakini sebagai konsep atau teori kepribadian yang ideal, yang ’seharusnya’ dilakukan oleh pemeluk agama Islam.
Kedua, Kepribadian muslim memiliki arti serangkaian perilaku orang/umat Islam yang rumusannya digali dari penelitian perilaku kesehariannya. Rumusan kepribadian muslim di sini bersifat induktif-praktis, karena sumbernya dari hasil penelitian terhadap perilaku keseharian orang/umat Islam. Boleh jadi dalam penelitian itu ditemukan (1) pola kepribadian yang ideal, karena kepribadian itu sebagai implementasi dari ajaran agama; (2) pola yang menyimpang (anomali), karena perilaku yang ditampilkan bertentangan dengan ajaran agamanya, sekalipun dirinya berpredikat muslim. Dalam konteks ini, keburukan atau kejahatan perilaku orang/umat Islam tidak dapat digeneralisir bahwa ajaran Islam itu buruk dan jahat. Artinya, kepribadian muslim belum tentu mencerminkan kepribadian Islam. Sebelum sampai pada pembentukan kepribadian yang matang, dewasa dan permanent, proses pembentukan identitas diri harus melalui beberapa tingkatan. Salah satu tingkatan yang harus dilalui adalah identifikasi, yaitu dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, misalnya dengan ayah, ibu, kakak, saudara, guru dan sebagainya. Pada masa remaja, tahap identifikasi ini data menyebabkan kebingungan dan kekaburan akan peranan social, karena remaj-remaja cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan beberapa tokoh sekaligus. Misalnya dengan ayahnya, bintang film kesayangannya, tokoh politik favoritnya dan sebaginya.

DAFTAR PUSTAKA
Daradjat,Zakiah.Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 2003
Jalaluddin, Dr, Psikologi Agama, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997
Sunarto, Dr, Perkembangan Peserta Didik, Asdi Maha Satya, Jakarta
Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 105
Sururin, M.Ag. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004 hal. 83
Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 107- 108
Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007 hal. 124
H. Jalaludin, Prof. Dr, Psikologi Agama Edisi Refisi 2002, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002.
H. Ramayulis, Prof. Dr, Pengantar Psikologi Agama, Kalam Mulia, Jakarta, 2002.
Nasution Harun, Filsafat Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.
Tafsir Ahmad, Prof. Dr, Filsafat Ilmu, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 20

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar